Senin, 25 Maret 2013

PERBEDAAN HIKAYAT DAN CERITA RAKYAT


1. PERBEDAAN HIKAYAT DENGAN CERITA RAKYAT
A. Pengertian Hikayat
Merupakan Cerita melayu klasik.  Secara etimologis kata hikayat diturunkan dari bahasa Arab hikayat yang berarti cerita, kisah, dongeng-dongeng. Jika ditinjau dari bahasa Melayu, kata hikayat ini pun memiliki arti yang sama dengan yang dikemukakan Hava, yaitu cerita kuno/cerita lama dalam prosa atau riwayat (sejarah). Hikayat muncul pada Angkatan Pujangga Lama dan Sastra Melayu Lama. Pada Angkatan Pujangga lama, hikayat merupakan salah satu karya sastra yang mendominasi pada saat itu. Berbentuk prosa yang berisi cerita, undang-undang, dan silsilah bersifat rekaan, keagamaan, historis, biografis, atau gabungan sifat-sifat itu, dibaca untuk pelipur lara, pembangkit semangat juang, atau sekedar untuk meramaikan pesta. Hikayat dibuat berdasarkan kehidupan kerajaan yang  didramatisir untuk menambah nilai hiburan bagi pendengarnya. Dengan kata lain nilai kebenarannya masih tetap ada.


B. Ciri-ciri Hikayat
  1. Sebagai suatu karya sastra mempunyai cara tersendiri dalam menceritakan realitas kehidupan
  2. Unsur karya sastra hikayat ada yang terkesan mengandung unsur dongeng sehingga terkesan rekaan/fiksional
  3. Isi hikayat sebahagian tidak logis
  4. Isi hikayat menyingkap kehidupan raja dan keluarganya
  5. Hikayat umumnya merupakan karangan yang berbentuk prosa dan tidak menutup kemungkinan unsur puisi ada di dalamnya
  6. Motif hikayat ialah kesaktian dan keajaiban.
                                                                
C. Contoh Hikayat “HANG TUAH”
Hang Tuah lahir dari Ibu yang bernama Dang Merduwati, sementara Ayahnya bernama Hang Mahmud. Karena kesulitan hidupnya, mereka pindah ke Pulau Bintan, tempat raja bersemayam, dengan harapan mendapat rezeki di situ. Mereka membuka warung dan hidup sangat sederhana.
Semua sahabat Hang Tuah berani. Mereka itu adalah Hang Jebat, Hang Kesturi, Hang Lekir, dan Hang Lekiu. Pernah suatu ketika mereka berlima pergi berlayar. Di tengah lautan dihadang oleh gerombolan perampok yang banyak sekali. Hang Tuah menggunakan taktik, membawa mereka ke darat. Di sana mereka melakukan perlawanan.
Sepuluh perampok mereka tewaskan, sedangkan yang lain melarikan diri. Dari beberapa orang yang dapat ditawan, mereka mengaku dari daerah Siantan dan Jemaja atas perintah Gajah Mada di Majapahit.
Sebenarnya mereka diperintahkan untuk menyerang Palembang tetapi angin kencang membawa mereka tersesat di Melaka. Akhirnya, keberanian Hang Tuah dan kawan-kawannya sampai juga kepada raja sehingga raja berkenan kepada mereka. Suatu ketika ada orang yang mengamuk di pasar. Orang-orang lari ketakutan. Hang Tuah jugalah yang dapat membunuh orang itu.
Hang Tuah lalu diangkat menjadi biduan istana (pelayan raja). Saat itu dia diminta menyerang ke Palembang yang diduduki orang Siantan dan Jemala. Hang Tuah sukses, lalu dia diangkat menjadi Laksamana. Berkali-kali Hang Tuah diutus ke luar negeri; ke Tiongkok, Rum, Majapahit, dan dia pernah pula naik haji. Akhir hayatnya, Hang Tuah berkhalwat di Tanjung Jingara.

D. Pengertian Cerita Rakyat
Cerita rakyat biasanya disamakan dengan dongeng. Cerita rakyat adalah sebagian kekayaan budaya dan sejarah yang dimiliki Bangsa Indonesia. Pada umumnya, cerita rakyat mengisahkan tentang suatu kejadian di suatu tempat atau asal muasal suatu tempat. Tokoh-tokoh yang dimunculkan dalam cerita rakyat umumnya diwujudkan dalam bentuk binatang, manusia maupun dewa. Fungsi Cerita rakyat selain sebagai hiburan juga bisa dijadikan suri tauladan terutama cerita rakyat yang mengandung pesan-pesan pendidikan moral. Banyak yang tidak menyadari kalo negeri kita tercinta ini mempunyai banyak Cerita Rakyat Indonesia yang belum kita dengar, bisa dimaklumi karena cerita rakyat menyebar dari mulut – ke mulut yang diwariskan secara turun – temurun. Namun sekarang banyak Cerita rakyat yang ditulis dan dipublikasikan sehingga cerita rakyat Indonesia bisa dijaga dan tidak sampai hilang dan punah.
E. Ciri-ciri Cerita Rakyat
1. Berdasarkan kehidupan masyarakat setempat
2. Mengandung teladan dan nasihat yang berguna
3. Disampaikan dari mulut ke mulut

F.Contoh cerita rakyat
Angsa-angsa

Hidup sepasang suami istri. Mereka mempunyai seorang anak perempuan dan anak laki-laki kecil.
“Putriku,” kata ibunya, “kami akan pergi bekerja, jagalah adikmu! Jangan keluar dari pekarangan, jadilah anak pintar, nanti kamu akan kami belikan baju.”
Lalu ayah dan ibunya pergi. Tapi, gadis cilik itu lupa akan pesan orang tuanya: ia mendudukan adiknya di atas rumput di bawah jendela, dania sendiri berlari ke jalan, bermain, dan berjalan-jalan. Datang berterbangan angsa-angsa, mencengkeram anak laki-laki itu, dan membawa anak itu di atas sayapnya. Gadis cilik itu kembali, melihat adiknya tidak ada! Ia berseru,mencari ke sana kemari tidak ada! Dia memanggil-manggil adiknya, tapi tak ada balasan dari adiknya. Air matanya berlinang, menangisi akan mendapatkan hal yang buruk dari ayah dan ibunya. Ia berlari ke ladang, tapi hanya melihat angsa-angsa yang berjalan mondar-mandir di kejauhan dan menghilang ke dalam hutan lebat. Lia menduga bahwa mereka telah membawa adiknya, sudah lama terdengar desas-desus tentang angsa-angsa itu, yang berbuat jahat dan membawa anak-anak kecil.Gadis cilik itu pergi mengejar mereka. Ia berlari dan melihat berdiri sebuah tungku. “Tungku, tungku, katakanlah, kemana angsa-angsa itu terbang?”
Tungku menjawab: “Makanlah pastel gandum hitam ku, nanti akan kukatakan.”
“Di rumahku pastel terigu tidak dimakan…”
Tungku tidak mengatakan apapun pada gadis cilik itu. Gadis cilik itu berlari lagi berdiri pohon apel. “Pohon apel, pohon apel,katakan,kemana angsa-angsa itu terbang?”
“Makanlah buah apel hutanku ini, nanti akan kukatakan.”
“Di rumahku buah apel kebun tidak dimakan…” Pohon apel itu tidak mengatakan apa-apa. Gadis cilik itu berlari lagi. Mengalir sungai susu dengan jelai di tepinya.
“Sungai susu, tepian jelai, kemana angsa-angsa itu terbang?”
“Makanlah jelai dengan susuku ini, nanti akan kukatakan.”
“Di rumahku susu asam tidak diminum…”
Lama ia berlari-lari di ladang, di hutan. Siang mendekati sore, ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi, ia harus pulang ke rumah. Tiba-tiba ia melihat ada sebuah pondok, dengan satu jendela, di atas kaki ayam. Ia mengitari pondok itu.Di pondok itu seorang nenek tua, Baba Yaga, sedang memintal rami. Di atas bangku kecil duduk adiknya yang sedang memainkan apel-apel perak. Gadis cilik itu masuk ke pondok: “Hai, nenek!”
“Hai, gadis cilik! Mengapa kamu datang kemari?”
“Aku berjalan-jalan di rawa, bajuku basah, aku datang untuk menghangatkan diri.”
“Duduklah kemari, pintallah rami ini. Baba Yaga akan memberimu alat pemintal, dan aku sendiri akan pergi.”
Lalu gadis cilik itu memintal. Tiba-tiba dari bawah tungku keluar seekor tikus dan berkata padanya: “Gadis cilik, gadis cilik, beri aku bubur, aku akan menceritakan
sesuatu padamu.”
Gadis cilik itu memberinya bubur, dan tikus itu berkata: “Baba Yaga pergi memanaskan air. Dia akan membersihkanmu, mengukusmu, meletakkanmu di atas tungku, memasakmu dan memakanmu,lalu dia sendiri akan memakan habis tulang-
tulangmu.”
Gadis cilik itu duduk tak bergerak, ia menangis, lalu tikus itu berkata lagi:
“Jangan tunggu lagi, bawa adikmu, larilah, aku akan menggantikanmu memintal rami.”
Gadis cilik itu membawa adiknya dan berlari. Sementara itu, Baba Yaga mendekat ke tingkap jendela dan bertanya: “Gadis cilik, kamu masih
memintalkah?”
Tikus menjawab: “Aku masih memintal, nenek…”
Baba Yaga selesai memanaskan air dan kembali menemui gadis cilik itu. Tapi, di dalam pondok itu tak ada siapa-siapa. Baba Yaga berteriak:
“Angsa-angsa! Kejarlah! Anak gadis itu membawa adiknya!”
Gadis cilik dan adiknya berlari sampai sungai susu. Ia melihat angsa-angsa yang terbang. “Wahai sungai, sembunyikan aku!”
“Makanlah jelaiku ini.”
Gadis itu memakannya dan mengucapkan terima kasih. Sungai menutupinya di bawah tepian jelai. Angsa-angsa itu tidak melihatnya,mereka terbang melewatinya. Gadis cilik dan adiknya berlari lagi. Tapi, angsa-angsa kembali dan melihatnya. Apa yang harus dilakukan? Sial!
Berdiri pohon apel… “Wahai pohon apel, sembunyikan aku!”
“Makanlah buah apel hutanku ini.”
Gadis itu segera memakannya dan mengucapkan terima kasih. Pohon apel lalu melindunginya dengan ranting-ranting dan menutupinya dengan daun-daun. Angsa-angsa tidak melihatnya, mereka terbang melewatinya.Gadis cilik itu kembali berlari. Berlari, berlari, tinggal sedikit lagi. Tapi, angsa-angsa melihatnya, tertawa-tawa, dan berterbangan di atasnya,mengepak-ngepakkan sayap, melihat, dan hendak merebut adiknya dari tangannya. Gadis cilik itu berlari sampai tungku. “Wahai tungku, sembunyikan aku!”
“Makanlah pastel gandum hitamku.”
Gadis cilik itu segera memasukkan pastel ke mulutnya, lalu ia sendiri dan adiknya masuk ke tungku dan duduk dekat lubang tungku. Angsa-angsa itu terbang, berteriak dan terbang kembali pada Baba Yaga tanpa hasil. Gadis cilik itu mengucapkan terima kasih pada tungku dan bersama adiknya lari pulang ke rumah. Lalu ayah dan ibunya datang.

2. PERSAMAAN HIKAYAT DENGAN CERITA RAKYAT
1. Fungsi/Tujuannya umumnya sama, yaitu sebagai pelipur lara hati si pembaca
2. Baik Hikayat maupun cerita rakyat keduanya merupakan salah satu karya sastra
3. Sama-sama cerita masa lalu/lampau
4. Bertujuan untuk menyampaikan hal-hal yang baik atau berupa ajaran-ajaran bagi si pembaca.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar